RSS
email
0

Metode Pengembangan Perangkat Lunak “Extreme Programming”


Metode Pengembangan Perangkat Lunak “Extreme Programming
 
Extreme Programming yang selanjutnya disingkat dengan XP merupakan salah satu dari sekian banyaknya metodologi dalam rekayasa perangkat lunak dan juga merupakan bagian dari metodologi pengembangan perangkat lunak agile. Secara umum Extreme Programming (XP) dapat dijabarkan sebagai sebuah pendekatan pengembangan perangkat lunak yang mencoba meningkatkan efisiensi dan fleksibilitas dari sebuah proyek pengembangan perangkat lunak dengan mengkombinasikan berbagai ide simpel/sederhana tanpa mengurangi kualitas software yang akan dibagun. XP dikembangkan oleh Beck, Cunningham, dan Jeffries dan ini merupakan lightweight discipline pengembangan perangkat lunak berdasarkan empat core value.
Core Values


Core Values pada XP :
1.                  Komunikasi  (Communication)
Kurangnya komunikasi merupakan penyebab utama kegagalan pengembangan software, maka XP mengfokuskan pada hubungan komunikasi yang baik antar tim-klien, anggota tim, dan manajer proyek. Komunikasi dalam XP dibangun dengan melakukan pemrograman berpasangan (pair programming). Klien harus dilibatkan dalam proses pengembangan perangkat lunaknya dengan tujuannya untuk memberikan pandangan pengembang sesuai dengan pandangan pengguna sistem yang dibangun.

2.      Kesederhanaan (Simplicity)
XP melakukan semua dengan sederhana dan praktis tanpa mengurangi fungsi utamanya. Diusahakan mengunakan method yang pendek dan simpel, jangan terlalu rumit dalam membuat desain, hilangkan fitur yang tidak ada gunanya atau menghapus fungsi yang tidak terpakai. Dengan kata lain lebih baik melakukan hal yang sederhana saat sekarang (sesuai kebutuhan) dan mengembangkannya besok jika diperlukan.
3.                  Umpan balik (Feedback)
Selalu mengevaluasi perkembangan terhadap perangkat lunak yang sedang dikerjakan, segala informasi harus dikumpulkan setiap interval waktu yang konsisten dan diskusikan kesalahan-kesalahan yang muncul selama proses pengembangan.  Umpan balik tersebut berfungsi sebagai indikator kemajuan proyek dan menginformasikan pemimpin proyek apabila perubahan perlu dibuat.
4.                  Keberanian (Courage). Simak
Programmer XP didorong untuk berani bereksperimen dan menulis ulang kode jika mereka tidak puas dengan kode yang sudah ada atau desain. Hal ini membantu mempertahankan moral  serrta intgeritas para pengembang proyek dan dapat mendukung lebih lanjut komunikasi dengan anggota proyek lainnya.
Berdasarkan 4 core value diatas, Beck dan Tomec menjabarkan 12 praktik inti XP :
(1). Planning game – Pada phase ini menggunakan terminologi “game” untuk menggunakan teknik score card dalam menentukan persyaratan (requirements). (2). Small releases - Sistem yang sederhana menjadi produksi cepat. Sehingga dapat merilis versi baru dengan siklus sangat pendek (two week). (3). Metaphor  -  Mirip den­gan arsitek­tur lebih bersi­fat naratif dan deskrip­tif, dihara­p­kan komu­nikasi antara klien den­gan devel­oper akan berlang­sung lebih baik dan lan­car den­gan peng­gu­naan metaphor. (4). Simple design - Menerapkan desain yang simpel dan sederhana tanpa menghilangakn fungsi utamanya. (5). Testing - Pengetesan dilakukan pada setiap unit perangkat lunak dalam lingkup sekecil mungkin daripada menunggu sampai seluruh perangkat lunak selesai dibuat. (6). Refactoring - Melakukan perubahan pada kode program dari perangkat lunak dengan tujuan meningkatkan kualitas dari struktur program tersebut tanpa mengubah cara program tersebut bekerja. (7). Pair pemrograming - Dua orang programer saling bekerjasama di komputer yang sama untuk menyelesaikan sebuah unit. (8). Collective Ownership - setiap orang dapat menukarkan coding  apapun  dalam sistem setiap saat, karena kesamaan pemahaman. (9). Continous Integration - Dengan melakukan build sesering mungkin berbagai kesalahan pada program dapat dideteksi dan diperbaiki secepat mungkin. (10). 40-hours Week - bekerja tidak lebih dari 40 jam per minggu sebagai aturan. (11).On-Site Customer - klien selalu berada pada tempat programer untuk menjawab pertanyaan. (12). Coding Standards - Menekankan kesamaan aturan/pemahaman programmer terhadap seluruh kode program.
Read more
0

Perancangan dan Implementasi Aplikasi Web Service


Judul               :  Perancangan dan Implementasi Aplikasi Web Service
                            Studi Kasus : (SIM Perpustakaan dengan Sistem Informasi Akademik F.MIPA Universitas Udayana.)

ABSTRAK

Web service dapat digambarkan sebagai sebuah sistem yang dirancang untuk dapat mendukung interaksi komunikasi antar mesin-mesin pada suatu jaringan (specifically WSDL). Teknologi web service memungkinkan pengguna untuk dapat menghubungkan berbagai jenis software yang memiliki platform dan sistem operasi yang sama atau berbeda sekalipun. Pengguna tetap mendapatkan sebuah potongan informasi dari suatu website tanpa harus mengunjungi website tersebut, cukup dengan mengetahui fungsi/method web service yang disediakan oleh web itu atau menggunakan pesan SOAP. Pengguna dapat mengakses potongan informasi itu dengan meletakkan fungsi/method itu pada sebuah aplikasi. Pada karya tulis ini, membahas tentang pegembangan dan penggunaan Web Service  dengan menggunakan bahasa PHP pada Perpustakaan  pusat serta Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F.MIPA), Universitas Udayana  Kampus Bukit Jimbaran.
     Tujuan dilakukan analisis sistem Untuk membantu pihak-pihak untuk mendapatkan informasi yang berhubungan dengan informasi yang ada pada Perpustakaan Universitas Udayana. Menyediakan layanan – layanan web service dan menampilkan informasi yang berkaitan dengan Perpustakaan Universitas Udayana. Menyederhanakan aktivitas yang terjadi antara bagian Perpustakaan Pusat dengan F.MIPA Universitas Udayana.
Tahap pengembangan sistem ini menggunakan salah satu metode pengembangan sistem informasi yaitu System Development Life Cycle (SDLC).  Dalam metode SDLC, Pengembangan sistem dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu: (1) identifikasi masalah, kesempatan dan tujuan; (2) penentuan kebutuhan informasi; (3) analisis sistem; (4) perancangan sistem; (5) implementasi dan dokumentasi perangkat lunak; (6) uji coba perangkat lunak.  Dalam tulisan ini, implementasi dan evaluasi sistem tidak dilaksanakan mengingat dibutuhkan biaya yang cukup besar dan waktu yang relatif lama.
Web Service Penyedia Layanan Perpustakaan Universitas Udayana yang disimulasikan dengan aplikasi Sistem Informasi Manajemen (SIM) Perpustakaan Pusat dan Sistem Informasi Akademik SIMAK F.MIPA Universitas Udayana mendapatkan hasil yaitu ; (1) Dengan mengunakan sistem aplikasi web service, SIM Perpustakaan Pusat dapat diintegrasikan dengan SIMAK F.MIPA di lingkungan Universitas Udayana. (2) Sistem aplikasi web service perpustakaan dapat menyediakan  4 (empat) layanan (service) utama yaitu,  Layanan pencarian data detail pustaka,  Layanan menampilkan informasi koleksi pustaka terbaru perpustakaan,  Layanan penelusuran data anggota perpustakaan,  Layanan penelusuran data peminjaman atau bebas perpustakaan.



Untuk melihat dan download selengkapnya  pada :
http://www.scribd.com/doc/39593545
Read more
0

Analisis Kinerja Keuangan Daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Bali, Tahun Anggaran 2005 – 2006


Judul          : Analisis Kinerja  Keuangan Daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Bali, Tahun Anggaran 2005 – 2006


ABSTRAK

         Sejak awal tahun 2001 semua pemerintah daerah di Indonesia melaksanakan otonomi daerah, termasuk kabupaten/kota di Provinsi Bali. Tujuan dilaksanakan otonomi daerah adalah agar pemerintahan di daerah lebih ekonomis, efisien, efektif dan bertanggungjawab (accountable).      Kemampuan suatu daerah dalam melaksanakan otonomi daerah bisa diketahui dari kinerja keuangannya. Pokok permasalahan dari penelitian ini, adalah bagaimana kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Bali tahun anggaran 2005 dan 2006 ditinjau dari tingkat  kemandirian keuangan daerah, pencapaian target pendapatan asli daerah, kewajaran alokasi dana belanja daerah, dan kemampuan daerah dalam meningkatkan kinerja keuangannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Bali tahun anggaran 2005 dan 2006 dilihat dari rasio-rasio keuangan. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis kuantitatif dan analisis kualitatif.

         Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari segi kemandirian pemerintah, 7 (tujuh) kabupaten di Provinsi Bali termasuk pola hubungan keuangan  instruktif yang artinya peranan pemerintah pusat masih dominan dari pada pemerintah daerah, atau dengan tingkat kemandirian kurang dari 25 persen, Kota Denpasar mempunyai pola hubungan konsultatif, sedangkan Kabupaten Badung dengan pola hubungan partisipatif.  Tingkat ekonomi rata-rata sebesar 92,68 persen, berada dalam kriteria ekonomis, tingkat efektifitas pendapatan sebesar 103,13 persen, berada pada kriteria efektif, sedangkan tingkat efisiensi sebesar 93,15 persen, berada pada kriteria efisien. Dana yang dialokasikan sebagian besar digunakan untuk belanja pelayanan publik dibandingkan belanja aparatur, pertumbuhan dan proporsi belanja lebih dominan terhadap belanja publik, yang menunjukkan bahwa pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Bali sudah mampu memperhatikan kepentingan dan kesejahteraan masyarakat luas.

         Disarankan kepada pengelola keuangan daerah di kabupaten/kota di Provinsi Bali lebih meningkatkan kinerja keuangannya agar kesejahteraan masyarakat lebih meningkat. 

Untuk melihat dan download selengkapnya  pada :
Lihat dan Download
http://www.scribd.com/doc/39592103

Read more
 

Friends

ON-LINE